“Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.”
Ibrani 3:1–19 mengajak kita memandang Yesus sebagai Rasul dan Imam Besar yang setia. Dia lebih mulia daripada Musa yang sangat dihormati oleh bangsa Israel. Musa memang setia sebagai pelayan di rumah Allah. Tetapi Yesus adalah Anak yang memerintah atas rumah itu. Rumah Allah itu adalah umat-Nya yang percaya kepada-Nya. Karena itu kita dipanggil untuk tetap berpegang pada pengharapan di dalam Kristus. Penulis Ibrani kemudian mengingatkan kisah bangsa Israel di padang gurun. Mereka melihat karya Allah yang besar setiap hari. Mereka juga menerima pemeliharaan dan pimpinan Tuhan. Namun hati mereka menjadi keras. Mereka mulai meragukan dan tidak mempercayai Allah. Ketidakpercayaan itu membuat mereka memberontak kepada Tuhan. Akibatnya mereka tidak dapat masuk ke tanah perjanjian. Padahal Allah sudah menjanjikan tempat perhentian bagi mereka. Janji itu hilang bukan karena Allah tidak setia. Janji itu gagal mereka alami karena hati yang tidak percaya. Ketidakpercayaan selalu menjadi bahaya besar bagi kehidupan rohani. Hati yang tidak percaya perlahan menjauh dari Allah yang hidup. Karena itu firman Tuhan berkata supaya kita saling menasihati setiap hari. Kita harus menjaga hati agar tidak ditipu oleh dosa. Dosa sering membuat hati menjadi keras tanpa kita sadari. Rahasia mengalami janji Allah adalah tetap percaya kepada-Nya. Iman yang teguh membuat kita bertahan sampai akhir. Ketika kita memandang kepada Kristus, hati kita dikuatkan kembali. Dengan iman yang setia kita akan masuk ke dalam perhentian yang dijanjikan Allah.
Doa Hari Ini :
“Tuhan, tolonglah kami memiliki hati yang selalu percaya kepada-Mu. Jauhkan kami dari hati yang keras dan dari ketidakpercayaan yang menjauhkan kami dari janji-Mu. Kuatkan iman kami supaya kami tetap setia sampai akhir dan mengalami semua janji-Mu di dalam Kristus. Terima kasih Tuhan, Amin.”