“Demikianlah mereka diserakkan Tuhan dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.”
Kejadian 11:8-9 menunjukkan bahwa Tuhan menghentikan pembangunan Menara Babel dengan mengacaukan bahasa manusia sehingga mereka tersebar ke seluruh bumi. Manusia saat itu ingin membangun kota dan menara untuk meninggikan diri mereka sendiri. Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka tanpa Tuhan. Ini adalah gambaran hati manusia yang berdosa. Dosa selalu mendorong manusia untuk mandiri dari Allah. Dosa membuat manusia mencari kemuliaan diri. Tuhan melihat kesombongan itu dan bertindak. Tuhan tidak membiarkan kejahatan berkembang tanpa batas. Pengacauan bahasa adalah bentuk penghakiman sekaligus anugerah. Dengan itu, Tuhan menghentikan rencana jahat manusia. Kota itu akhirnya berhenti dibangun. Menara itu tidak pernah selesai. Ini menunjukkan bahwa usaha manusia tanpa Tuhan akan gagal. Semua ambisi yang tidak berpusat pada Allah akan berakhir sia-sia. Dari Babel kita melihat kebutuhan akan penebusan. Manusia yang terpecah membutuhkan pemulihan. Injil membawa kita kepada Kristus yang menyatukan kembali manusia. Dalam Kristus, bahasa yang terpecah dipersatukan oleh Roh Kudus. Kisah Pentakosta menjadi kebalikan dari Babel. Di dalam Kristus, manusia tidak lagi meninggikan diri, tetapi memuliakan Allah. Kristus adalah pusat dari kota yang baru. Ia membawa kita kepada kota Allah yang kekal. Berbeda dengan Babel, kota Allah tidak dibangun oleh kesombongan manusia. Kota Allah dibangun oleh anugerah Tuhan. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Kita tidak lagi membangun “menara Babel” dalam hidup kita. Kita hidup sebagai umat yang ditebus di dalam Kristus.
Doa Hari Ini :
“Tuhan, ampuni kami karena sering hidup untuk meninggikan diri kami sendiri. Ajarkan kami untuk hidup berpusat pada Kristus dan memuliakan nama-Mu. Pimpin kami agar menjadi bagian dari rencana-Mu yang kekal. Terima kasih Tuhan, Amin!”