“Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”
Anak sulung dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya setia, namun hatinya jauh dari Bapanya. Ia melayani, tetapi tanpa kasih. Ia taat, tetapi tanpa sukacita. Bapanya berkata, “Engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Kalimat ini adalah rahasia kehidupan rohani yang sejati. Kebangunan rohani tidak dimulai dari kegiatan besar, tetapi dari kesadaran bahwa kita selalu bersama Bapa. Jemaat Efesus dulu dikenal rajin dan setia, tetapi kehilangan kasih yang mula-mula. Mereka aktif, tetapi tidak intim dengan Bapa. Bapa rindu agar umat-Nya tidak hanya bekerja untuk-Nya, tetapi hidup bersama-Nya. Saat kita sadar bahwa Bapa selalu hadir, hati kita dipulihkan. Kasih yang pudar akan menyala kembali. Ibadah menjadi sukacita, bukan kewajiban. Pelayanan menjadi ungkapan kasih, bukan beban. Bersama Bapa, kita menemukan kembali makna setiap doa. Bersama Bapa, firman terasa hidup dan meneguhkan. Bersama Bapa, kita mampu mengampuni dan mengasihi. Kebersamaan dengan Bapa melahirkan kebangunan sejati di hati kita. Jemaat yang selalu hidup bersama Bapa tidak akan kehilangan arah. Mereka tidak akan kering, karena sumbernya adalah kasih Bapa. Inilah rahasia rohani yang sering terlupakan. Bukan kesibukan rohani yang menghidupkan, tetapi keintiman dengan Bapa. Jika kita dekat dengan Bapa, kita akan dipenuhi kuasa dan kasih. Dan dari hati yang bersama Bapa, akan mengalir kebangunan yang sejati dan kekal.
Doa Hari Ini:
“Bapa yang penuh kasih, ajar kami untuk selalu hidup dekat dengan-Mu setiap hari. Pulihkan hati kami agar kasih yang mula-mula menyala kembali. Jadikan kami jemaat yang mengalami kebangunan rohani karena selalu bersama-Mu. Terima kasih Bapa, Amin!”