“Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.”
Kejadian 11:1-2 menunjukkan bahwa seluruh bumi memiliki satu bahasa dan satu logat yang sama. Kesatuan ini pada awalnya terlihat baik dan indah. Manusia dapat berkomunikasi tanpa hambatan. Mereka dapat bekerja sama dengan mudah. Namun, kesatuan itu tidak dipakai untuk memuliakan Allah. Kesatuan itu justru dipakai untuk meninggikan diri manusia. Mereka berkumpul di satu tempat dan merencanakan sesuatu yang besar. Mereka ingin membangun kehidupan tanpa bergantung pada Tuhan. Inilah awal dari masalah manusia yang sejati. Dosa membuat manusia memakai berkat Tuhan untuk melawan Tuhan. Kesatuan bahasa menjadi alat kesombongan. Dari sini kita melihat hati manusia yang telah jatuh. Manusia ingin bersatu, tetapi tanpa Allah. Ini adalah gambaran dunia sampai hari ini. Banyak orang mencari persatuan, tetapi menolak Tuhan. Namun, Injil menunjukkan jalan yang berbeda. Allah tidak membiarkan manusia terus dalam kesombongan itu. Allah turun tangan dalam sejarah manusia. Pada akhirnya, Allah mengarahkan semuanya kepada Kristus. Di dalam Kristus, manusia yang tercerai-berai dipersatukan kembali. Bukan lagi dengan kesombongan, tetapi dengan kasih karunia. Di dalam Kristus, kita memiliki satu iman. Di dalam Kristus, kita memiliki satu Roh. Di dalam Kristus, kita dipanggil menjadi satu tubuh. Inilah kesatuan yang sejati menurut Injil. Dari Babel menuju Kristus, Allah sedang menebus manusia. Kesatuan sejati hanya ada di dalam Dia.
Doa Hari Ini :
“Tuhan, ampuni kami yang sering memakai hidup kami untuk meninggikan diri sendiri. Ajarlah kami untuk hidup dalam kesatuan yang berpusat kepada Kristus. Pimpin kami agar selalu memuliakan Engkau dalam setiap hal. Terima kasih Tuhan, Amin!”