“ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
Allah mencipta manusia bukan secara kebetulan. Kejadian 2:7 menunjukkan bahwa Allah sendiri yang membentuk manusia dari debu tanah. Debu tanah menggambarkan kerendahan dan keterbatasan manusia. Namun Allah tidak berhenti pada debu. Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia. Nafas hidup itu berasal langsung dari Allah. Karena itu hidup manusia berasal dari Allah. Manusia hidup karena anugerah Allah. Tindakan Allah ini menunjukkan bahwa Ia rindu bersekutu dengan manusia. Manusia diciptakan untuk mengenal Allah. Manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah. Dalam perspektif perjanjian penebusan, penciptaan ini adalah awal karya Allah. Allah sejak awal merancang hubungan yang dekat dengan manusia. Hubungan itu bukan hubungan yang jauh. Hubungan itu adalah persekutuan yang hidup. Walaupun manusia berasal dari debu, manusia diberi martabat oleh Allah. Martabat itu berasal dari nafas Allah. Hidup manusia memiliki tujuan ilahi. Tujuan itu adalah memuliakan Allah. Tujuan itu juga adalah menikmati persekutuan dengan Allah. Kejadian 2:7 mengingatkan manusia akan asal-usulnya. Manusia tidak boleh sombong atas hidupnya. Manusia dipanggil untuk hidup bergantung kepada Allah. Allah yang mencipta juga Allah yang memelihara. Allah mencipta manusia untuk hidup dalam persekutuan yang benar dengan-Nya.
Doa Hari Ini :
“Tuhan Allah, kami bersyukur karena Engkau mencipta kami dari debu dan memberi kami nafas hidup. Ajarlah kami untuk hidup rendah hati dan selalu bergantung kepada-Mu. Bawalah kami hidup setia dalam persekutuan yang benar dengan-Mu setiap hari. Terima kasih Tuhan, Amin!”