“ 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”
Yohanes 12:24 mengajarkan bahwa biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati supaya berbuah banyak. Yesus memakai gambaran sederhana agar kita memahami jalan hidup Kerajaan Allah. Biji yang disimpan tidak akan menghasilkan apa pun. Biji yang rela hilang justru menjadi sumber kehidupan. Ini menunjukkan pola perjanjian penebusan Allah sejak awal. Dalam rencana Allah, hidup datang melalui pengorbanan. Yesus sendiri adalah Biji sejati yang mati bagi dunia. Melalui salib-Nya, hidup baru diberikan kepada banyak orang. Kita dipanggil untuk mengikuti jalan yang sama. Mengikuti Yesus berarti rela menyangkal diri. Menyangkal diri bukan berarti membenci hidup. Menyangkal diri berarti menyerahkan hidup kepada kehendak Allah. Ketika kita hidup untuk diri sendiri, buah tidak muncul. Ketika kita hidup bagi Allah, berkat mengalir. Tuhan memakai ketaatan yang sederhana. Tuhan bekerja melalui kesetiaan yang tersembunyi. Hidup yang dipersembahkan menjadi alat anugerah. Pengorbanan yang kecil pun bernilai di hadapan Allah. Dari satu hidup yang taat, banyak orang diberkati. Inilah tujuan hidup orang percaya. Kita tidak hidup untuk kemuliaan diri. Kita hidup untuk memuliakan Kristus. Buah yang dihasilkan membawa sukacita bagi sesama. Buah itu juga memuliakan Bapa. Melalui hidup yang diserahkan, Allah menyatakan kasih-Nya kepada dunia.
Doa Hari Ini :
“Tuhan, ajar kami untuk rela menyerahkan hidup kami kepada-Mu. Bentuklah kami agar hidup kami menghasilkan buah bagi banyak orang. Pakailah kami menjadi saluran berkat untuk memuliakan nama-Mu. Terima kasih Tuhan, Amin!”