“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Aku manusia celaka! Kalimat ini keluar dari hati yang lelah melawan dosa. Paulus jujur bahwa ia tidak mampu menang sendiri. Dosa bukan sekadar kesalahan, tapi kuasa yang membelenggu. Ia seperti rantai yang tidak bisa kita patahkan sendiri. Tapi Paulus tidak berhenti di keputusasaan. Ia bertanya, siapa yang akan melepaskannya? Lalu ia berseru dengan penuh syukur: “Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” Inilah jawabannya. Bukan kekuatan kita yang menyelamatkan, tapi kasih karunia Allah dalam Kristus. Di salib, Yesus menanggung kutuk hukum Taurat. Ia mati supaya kita mati terhadap dosa. Ia bangkit supaya kita hidup bagi Allah. Melalui perjanjian anugerah, Allah mengikat kita dalam kasih-Nya. Kita bukan lagi budak dosa, tapi anak-anak Allah. Hidup kita bukan milik dosa, tapi milik Kristus. Kita mati terhadap kuasa dosa, artinya dosa tidak lagi jadi tuan atas kita. Tapi kita masih harus bergumul setiap hari. Namun sekarang kita bergumul bukan dalam kekalahan, melainkan dalam kemenangan Kristus. Hati kita masih lemah, tapi Roh Kudus menolong dalam kelemahan kita. Ketika jatuh, kita tidak binasa, karena kita hidup dalam perjanjian kasih. Hidup bagi Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kepada kehendak-Nya. Kita tidak hidup untuk memuaskan diri, tapi untuk memuliakan Allah. Inilah hidup baru dalam Kristus. Bukan hidup sempurna, tapi hidup yang terus disucikan. Dalam setiap kelemahan, kita berpaling kepada kasih karunia. Setiap hari kita belajar mati bagi dosa, dan hidup bagi Allah. Kita tidak sendiri, sebab Allah menyertai kita. Dan dalam Kristus, kemenangan itu sudah dijamin. Maka kita bisa berkata bersama Paulus: Syukur kepada Allah!
Doa Hari Ini :
“Bapa, aku menyadari bahwa kekuatanku terbatas. Namun aku percaya kuasaMu melalui kasih Kristus terus menerus menyempurnakanku. Aku akan mengandalkan kuasaMu di dalam kehidupanku. Terima kasih Bapa, Amin!”