“Lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu”
Kejadian 11:5 menunjukkan bahwa Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun manusia. Manusia pada waktu itu ingin meninggikan diri mereka sendiri. Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka tanpa Tuhan. Mereka merasa kuat dan bersatu dalam kesombongan. Namun Tuhan tidak tinggal diam melihat hati manusia. Tuhan turun untuk melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah yang dekat dan memperhatikan manusia. Ia tidak jauh dari kehidupan kita. Ia melihat bukan hanya perbuatan, tetapi juga hati manusia. Dalam peristiwa Babel, kita melihat dosa kesombongan manusia. Manusia ingin naik, tetapi Tuhan justru turun. Ini menjadi gambaran penting dalam Injil. Ketika manusia jatuh dalam dosa, Tuhan kembali turun dalam pribadi Kristus. Yesus datang ke dunia bukan untuk meninggikan diri-Nya, tetapi untuk merendahkan diri-Nya. Ia turun menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Di Babel, bahasa manusia dikacaukan karena dosa. Di dalam Kristus, manusia dipersatukan kembali oleh kasih karunia. Babel adalah tanda penghakiman, tetapi Kristus adalah tanda penebusan. Tuhan yang turun di Babel membawa koreksi. Tuhan yang turun dalam Kristus membawa keselamatan. Ini menunjukkan bahwa Allah selalu bertindak dalam sejarah manusia. Ia tidak membiarkan manusia berjalan dalam kesesatan selamanya. Ia turun untuk menghentikan kejahatan. Ia juga turun untuk menyelamatkan yang percaya. Respon kita adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita tidak perlu membangun “menara” untuk kemuliaan diri. Kita dipanggil untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Di dalam Kristus, kita menemukan jalan yang benar kembali kepada Allah.
Doa Hari Ini :
“Tuhan, ajar kami untuk tidak hidup dalam kesombongan seperti di Babel. Tolong kami untuk melihat kasih-Mu yang turun dalam Kristus bagi keselamatan kami. Mampukan kami hidup rendah hati dan memuliakan nama-Mu setiap hari. Terima kasih Tuhan, Amin!”