“Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.”
Ibrani 12:29 menyatakan bahwa “Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Ayat ini bukan hanya peringatan tentang kekudusan dan keadilan Allah, tetapi juga undangan untuk mengenal Dia dalam terang penebusan yang digenapi dalam Kristus. Api yang menghanguskan menggambarkan kemurnian dan kekudusan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari kasih-Nya. Dalam Perjanjian Lama, api kerap menyertai penyataan hadirat Allah—dari semak yang menyala di hadapan Musa hingga Gunung Sinai yang berguncang. Semua itu menunjuk pada kebutuhan umat untuk disucikan agar dapat mendekat kepada-Nya. Dalam konteks penebusan, api Allah tidak hanya menghukum, tetapi juga menyucikan. Kristus datang sebagai penggenapan janji penebusan, bukan untuk menghapus keadilan Allah, melainkan untuk memuaskannya. Di kayu salib, murka Allah atas dosa dicurahkan sepenuhnya ke atas Anak-Nya sendiri. Salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah bertemu dalam kemuliaan yang tak terlukiskan. Dengan mengenal Kristus secara benar, kita mengenal Allah yang kudus dan kasih dalam satu pribadi. Pengetahuan akan Kristus bukan sekadar doktrin, melainkan pengenalan yang menyelamatkan. Mengenal Kristus secara benar berarti mengenal bahwa Ia adalah Imam Besar yang menghapus dosa melalui pengorbanan-Nya sendiri. Ia adalah Mesias perjanjian yang setia, mengikat umat-Nya dalam darah yang kekal. Tanpa pengenalan akan Kristus, api Allah hanyalah kebinasaan. Tetapi di dalam Kristus, api itu menjadi pembersih dan pendidik. Penebusan di dalam Yesus Kristus menjadikan kita umat yang dapat berdiri di hadapan Allah yang kudus. Pengenalan akan Kristus memampukan kita untuk tidak takut pada api yang menghanguskan, melainkan menyerahkan diri untuk disucikan oleh-Nya. Kehidupan Kristen adalah panggilan untuk hidup dalam kekudusan yang dilahirkan dari kasih karunia. Ketika kita menerima karya penebusan Kristus, Roh Kudus mulai bekerja membentuk kita dalam kekudusan Allah. Ibrani 12:29 menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kompromi dalam iman kita. Karena Kristus telah menanggung api murka itu, kita sekarang bisa hidup bagi Allah dalam penyembahan yang berkenan. Penebusan mengubah cara kita memandang kekudusan: bukan lagi ancaman, tetapi perjumpaan kasih. Maka, marilah kita mengenal Kristus bukan sekadar sebagai guru moral, melainkan sebagai Anak Allah yang menghanguskan dosa dengan darah-Nya. Dialah penggenapan seluruh nubuat dan bayang-bayang dalam Perjanjian Lama. Setiap korban, setiap api di mezbah, semuanya menunjuk kepada-Nya. Ketika kita mengenal Kristus dengan benar, kita tidak akan mundur dari hadirat Allah yang kudus. Sebaliknya, kita akan berani mendekat karena darah perjanjian telah membuka jalan yang hidup. Karena itu, marilah kita hidup dengan takut dan gentar, tetapi juga dengan sukacita penebusan. Kristus adalah jalan, kebenaran, dan hidup—dialah pengantara satu-satunya yang menyelamatkan kita dari api penghakiman menjadi bejana kemuliaan.
Doa Hari Ini :
“Bapa, aku menyadari bahwa Yesus Kristus adalah api yang penuh kasih untuk membakar seluruh kelemahanku. Aku percaya aku telah diperkenan melalui darahNya yang kudus. Aku rindu untuk terus mendekat kepada Kristus karena hanya dekat dengan Dia saja maka segala kelemahanku akan hangus. Terima kasih Bapa, Amin!”