“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Filipus ……”
Dalam Kisah Para Rasul 6:3, para rasul meminta jemaat untuk memilih tujuh orang yang dikenal baik, penuh Roh Kudus, dan berhikmat, untuk menangani pelayanan meja. Ayat ini bukan sekadar tentang struktur organisasi gereja, tetapi gambaran Injil yang hidup dalam jemaat. Roh Kudus yang diminta bukan hanya untuk kuasa mukjizat, tapi untuk karakter yang mencerminkan Kristus. Dalam Perjanjian Lama, pemilihan orang untuk pelayanan biasanya berdasarkan garis keturunan, namun dalam Injil, panggilan berdasarkan anugerah dan buah Roh. Ini adalah transformasi besar: dari pelayanan berdasarkan hukum kepada pelayanan berdasarkan kasih karunia. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah mereka yang telah mengalami karya penebusan Kristus. Injil mengubah motivasi pelayanan dari kewajiban menjadi sukacita. Dalam Kristus, kita tidak hanya diselamatkan untuk masuk surga, tetapi untuk melayani dalam kasih. Yesus sendiri datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Itulah pola yang ditanamkan dalam gereja mula-mula. Pelayanan meja bukan pekerjaan kecil dalam Injil, melainkan perpanjangan tangan kasih Kristus kepada yang lemah. Ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, itu terlihat dari cara ia melayani, bukan hanya berkhotbah. Kebijaksanaan yang disebutkan di sini bukan sekadar kecerdasan manusia, melainkan hikmat salib. Dalam salib, Yesus memperlihatkan kebijaksanaan Allah yang tersembunyi bagi dunia. Para pelayan dalam Kisah Para Rasul dipanggil untuk mencerminkan kebijaksanaan itu. Mereka bukan hanya mengatur makanan, tetapi membawa damai di tengah potensi perpecahan. Injil mempersatukan yang terpecah dan memampukan orang biasa untuk melakukan pelayanan luar biasa. Kisah Para Rasul 6:3 menunjukkan bahwa semua pelayanan penting dalam tubuh Kristus. Tidak ada yang rendah jika dilakukan dalam terang Injil. Injil membuat pelayanan menjadi kesempatan untuk menyatakan Kristus. Pelayanan bukan panggung kemegahan, tetapi altar pengorbanan. Seorang yang penuh Roh Kudus tidak mencari nama, tetapi ingin nama Yesus dikenal. Dalam pelayanan, Injil bekerja bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan yang melayani. Itulah sebabnya gereja bertumbuh ketika pelayanannya dijiwai oleh Injil. Melalui ayat ini, kita diajak untuk mengevaluasi motivasi kita dalam melayani. Apakah kita melayani karena dorongan Roh atau hanya rutinitas agama? Injil memanggil kita untuk hidup dengan semangat pelayanan yang berasal dari kasih penebusan. Di bawah perjanjian anugerah, setiap pelayanan adalah respon syukur atas karya Kristus. Maka marilah kita minta dipenuhi Roh Kudus agar pelayanan kita mencerminkan Yesus. Sebab dunia tidak hanya perlu mendengar Injil, tetapi juga melihatnya hidup dalam diri kita.
Doa Hari Ini :
“Bapa, aku percaya Injil mengubah kehidupanku, mengubah motivasiku dan mengubah cara pelayananku. Aku percaya Injil membawaku untuk hidup penuh dengan hikmatMu. Terima kasih Bapa, Amin!”