“Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”
Kejadian 4:3-5 menceritakan tentang dua persembahan yang berbeda di hadapan Tuhan. Kain membawa sebagian hasil tanah yang ia usahakan. Habel membawa anak sulung kambing dombanya dan lemak-lemaknya. Tuhan mengindahkan Habel dan persembahannya. Tetapi Tuhan tidak mengindahkan Kain dan persembahannya. Perbedaan itu bukan terutama pada jenisnya, tetapi pada hatinya. Habel datang dengan iman dan takut akan Tuhan. Ia memberikan yang sulung dan yang terbaik. Di sana kita melihat prinsip perjanjian bahwa Allah layak menerima yang terutama. Darah dari anak domba itu tercurah di mezbah. Darah itu berbicara tentang hidup yang diberikan. Sejak awal, Allah menunjukkan bahwa tanpa darah tidak ada pendamaian. Darah Habel yang tertumpah kemudian juga berteriak dari tanah. Teriakan itu adalah kesaksian tentang dosa manusia. Tetapi sebelum darah Habel berteriak karena dibunuh, darah persembahannya sudah berbicara tentang pengharapan. Darah itu menunjuk kepada Anak Domba yang sejati. Di dalam rencana penebusan, Allah sedang menyiapkan jalan keselamatan. Persembahan Habel adalah bayangan dari karya Kristus. Kelak Yesus Kristus datang sebagai Anak Domba Allah. Darah-Nya bukan hanya berteriak tentang keadilan, tetapi juga tentang kasih karunia. Darah-Nya tidak menuntut balas, tetapi membawa pengampunan. Inilah darah yang menyelamatkan orang berdosa. Dari mezbah Habel kita belajar tentang iman yang sejati. Kita diajak datang kepada Tuhan dengan hati yang percaya. Kita memberikan hidup kita sebagai persembahan yang terbaik. Dan kita bersandar hanya pada darah yang menyelamatkan itu.
Doa:
“Tuhan, ajar kami datang kepada-Mu dengan iman seperti Habel. Mampukan kami memberikan yang terbaik dari hidup kami bagi-Mu. Terima kasih untuk darah Yesus yang menyelamatkan dan memulihkan kami. Terima kasih Tuhan, Amin!”